Senin, 10 Juni 2013

KASUS PLAGIASI NOVEL "AMSTERDAM IK HOU VAN JE" KARYA ARUMI E

Rincian novel
Judul: Amsterdam Ik Hou van Je
Penulis: Arumi E
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: 2013


Sebagian besar data tentang Belanda yang tercantum dalam novel "Amsterdam Ik Hou van Je" karya ARUMI E merupakan hasil plagiasi/copy paste/modifikasi berbagai artikel yang tersebar di internet.

Berikut adalah bukti plagiasi/copy paste/modifikasi yang dilakukan penulis Arumi E. Perhatikan kalimat-kalimat yang telah dibold/dihitamkan sebagai perbandingan. Tabel kiri adalah paragraf-paragraf dalam novel "Amsterdam Ik Hou van Je" sedangkan tabel kanan merupakan sumber asli:

Novel “Amsterdam Ik Hou van Je”
(AIHJ) hal.39
 
Artikel “Menelusuri Kanal-Kanal Leiden,” sumber: Radio Nederland Wereldomroep Indonesia
Kota ini ideal untuk dijadikan wisata pengetahuan karena memiliki dua belas museum yang menarik. Di antaranya Museum Lingkungan Hidup Naturalis dan Museum budaya Volkenkunde yang sering sekali menampilkan budaya Indonesia.
Kota ini ideal untuk wisata pengetahuan karena memiliki dua belas museum, mulai dari Museum Lingkungan Hidup Naturalis, sampai museum budaya Volkenkunde yang sering sekali menampilkan budaya Indonesia.
 
Novel AIHJ hal.40
Artikel “Toleransi di Kota Tua,” sumber: 
Suara Merdeka
Sungai utama dan dua cabangnya bertautan dengan sungai-sungai kecil yang dibentuk menjadi kanal-kanal. Pada musim panas, kanal-kanal itu dipergunakan sebagai wisata air, sedangkan di musim dingin, kanal-kanal itu akan membeku, kemudian dimanfaatkan warga setempat sebagai arena ice skating.
Sungai utama dan dua cabangnya bertautan dengan sungai-sungai kecil yang berupa kanal. Pada musim panas, kanal-kanal itu dipergunakan sebagai wisata air, sedangkan di musim dingin, ketika salju turun, menjadi arena skating yang menantang.
 
Novel AIHJ hal.51
Artikel “Bersepeda di Leiden,” sumber: Kompasiana
Segera saja Anggi merasakan, bersepeda di Leiden memang nyaman dan mengasyikkan. Jalur sepeda ada di semua jalan utama, diberi tanda garis putih. Sepeda motor yang relatif jarang, menggunakan jalur sepeda juga. Sepeda motor sebagian dipakai oleh orang tua, dengan desain khas yang berbeda, dengan sepeda motor yang ada di Indonesia.
Bersepeda di Leiden memang nyaman dan mengasyikan. Jalur sepeda ada di semua jalan utama, diberi tanda garis putih. Sepeda motor yang relatif jarang, menggunakan jalur sepeda juga. Sepeda motor sebagian dipakai oleh orangtua, dengan desain yang khas yang berbeda dengan sepeda motor di kita.
 
Novel AIHJ hal.51
Artikel “Toleransi di Kota Tua,” sumber: Suara Merdeka
Jika kota-kota besar lainnya di berbagai negara maju berlomba membangun pencakar langit sebagai landmark untuk melihat seantero kota, Leiden justru bangga dengan kastil yang tingginya hanya sepuluh meter di atas bukit.
 
 
Kalau kota-kota besar dunia berlomba membangun pencakar langit sebagai tetenger untuk melihat seantero kota misalnya Kuala Lumpur dengan Menara Kembar, Toronto dengan CN Tower, Boston dengan Hancock Tower, maka tidak demikian halnya dengan Leiden yang bangga dengan kastil yang tingginya hanya sepuluh meter di atas bukit.
Novel AIHJ hal.53-54
 
Artikel “Menelusuri Kanal-Kanal Leiden,” sumber: Radio Nederland Wereldomroep Indonesia
Sebutan Belanda sebagai negeri kincir angin terlihat jelas di kota Leiden. Ada sembilan kincir angin tersebar di seluruh kota ini. Sebagian besar kincir angin sudah berubah fungsi, dari tempat pengolahan gandum, menjadi museum. Biasanya, museum dalam kincir angin ini memuat informasi sejarah pembangunan. Fungsi kincir angin bersangkutan ketika masih aktif digunakan. Beberapa kincir angin juga masih memajang alat-alat tradisional untuk mengolah gandum.
Potret Belanda sebagai negeri kincir angin bisa terlihat jelas di kota Leiden. Total sembilan kincir angin tersebar di seluruh kota ini. Sebagian besar kincir angin sudah berubah fungsi, dari tempat pengolahan gandum, menjadi museum. Biasanya, museum dalam kincir angin ini memuat informasi sejarah pembangunan dan fungsi kincir angin bersangkutan ketika masih aktif digunakan. Di beberapa kincir angin, kita malah masih bisa melihat alat-alat tradisional untuk mengolah gandum.
Novel AIHJ hal.55
Artikel “Bersepeda di Leiden,” sumber: Kompasiana
Leiden sebagai kota sepeda semakin jelas terlihat saat Anggi keluar dari stasiun Leiden. Di depan stasiun, persisnya sebelah kiri, di bawah tempat mangkal taksi dan di seberang jalan, ada tempat parkir sepeda dengan desain unik: bertingkat.
Leiden sebagai kota sepeda memang tampak sekali begitu saya keluar dari stasiun Leiden CS (centraal stasiun). Di depan stasiun, persisnya sebelah kiri, di bawah tempat mangkal taksi dan di seberang jalan, ada tempat parkir sepeda dengan desain unik: bertingkat.
Novel AIHJ hal.55
 
Artikel “Toleransi di Kota Tua,” sumber: Suara Merdeka
Di kota ini Anggi menyaksikan sendiri bagaimana kota ini didesain menjadi kota yang sangat ramah bagi pengguna sepeda dengan menyediakan jalur khusus untuk sepeda pada setiap ruas jalannya. Di setiap kantor, kampus, ruang publik, stasiun, terminal, atau mal disediakan tempat parkir memadai untuk sepeda.
 
Anggi juga mengamati, beberapa orang dari luar Leiden yang memiliki kegiatan di kota ini tidak perlu menggunakan mobil untuk sampai ke sini. Umumnya, mereka lebih senang mengayuh sepeda, lalu diparkir di stasiun, dan berganti kereta api menuju kota tujuan. Nyaman, tidak stres, dan lebih efisien.
Kota Leiden itu sangat ramah karena menyediakan jalur khusus untuk sepeda pada setiap ruas jalannya. Di setiap kantor, kampus, ruang publik, stasiun, terminal, atau mal disediakan tempat parkir memadai untuk sepeda.
 
 

Commuter (penglaju) dari luar Leiden tidak perlu menggunakan mobil untuk mencapai kota tersebut. Mereka setiap hari mengayuh sepeda kemudian diparkir di stasiun, dan berganti kereta api menuju kota tujuan. Nyaman tidak stres dan lebih efisien.

Novel AIHJ hal.56
Artikel “Toleransi di Kota Tua,” sumber: Suara Merdeka
Anggi mengenal beberapa warga dari luar Leiden yang sengaja memiliki dua sepeda. Satu untuk dikayuh dari rumah ke stasiun dan sebaliknya. Satu sepeda lagi dimanfaatkan untuk transportasi selama berada di Kota Leiden.
 
Cara ini dipilih karena kereta api yang disediakan sangat nyaman, terjangkau, dan tepat waktu serta banyak pilihan dengan frekuensi setiap sepuluh menit. Stasiun Sentral juga menyatu dengan terminal bus sehingga memberikan kemudahan dan pilihan bagi warga.
Commuter dari luar Leiden biasanya memiliki dua sepeda. Satu untuk dikayuh dari rumah ke stasiun dan sebaliknya. Satu lagi dipergunakan untuk mobilitas di Leiden dan mengantar dari dan ke stasiun.
 
Pola penglaju yang demikian ini sangat memungkinkan karena kereta api sangat nyaman, terjangkau, dan tepat waktu serta banyak pilihan dengan frekuensi setiap 10 menit. Stasiun Sentral juga menyatu dengan terminal bus sehingga memberikan kemudahan dan pilihan bagi masyarakat pengguna.
 

Novel AIHJ hal.68-69
Artikel “Jalan-Jalan di Amsterdam,” sumber: javamilk
“Walaupun Amsterdam ibu kota Belanda, tapi jangan kau bayangkan kota ini metropolis seperti London atau Paris. Tidak ada tempat wisata megah seperti colloseum atau Menara Eiffel. Amsterdam adalah kota yang menawarkan suasana eksotik dengan bangunan khasnya yang kuno dan klasik. Puluhan kanal yang membelah kota ini membuat setiap sudut jalan terlihat indah.
 
Hal.69:
“…Amsterdam bukan kota sibuk yang warganya seolah diburu waktu seperti New York. Waktu seolah berjalan lambat di sini, nikmati saja suasana kota Amsterdam dengan santai.
Anda jangan berharap menemukan tempat wisata yang megah seperti Colosseum atau menara Eiffel atau metropolis seperti London. Amsterdam adalah kota yang menawarkan suasana eksotik dengan bangunan khas nya yang sekaligus kuno juga klasik. Puluhan kanal yang membelah kota ini membuat setiap sudut jalan terlihat indah.
 
 
 
Waktu seolah berjalan lambat di sini, nikmati kota Amsterdam dengan santai.

Novel AIHJ hal.76
 
Artikel "Amsterdam Tak Cuma Tulip dan Kincir," sumber: Kompas
Sudah dua minggu ia tinggal di Amsterdam. Ini adalah kota terbesar di Belanda yang sangat majemuk, dihuni oleh berbagai suku bangsa dari berbagai penjuru dunia.
 
...kota ini mendapat sebutan “The Venice of the North”. Kanal adalah semacam sungai besar dan lebar, dapat dilalui perahu atau kapal berukuran sedang. Di sepanjang kanal-kanal ini juga banyak terdapat jembatan-jembatan. Beberapa jembatan masih mempertahankan model aslinya yang klasik (modifikasi dari paragraf di sebalah kanan)
Kota terbesar di Belanda yang sangat majemuk karena saat ini dihuni oleh berbagai suku bangsa dari berbagai penjuru dunia.
 
 
Kota yang mendapat sebutan “the Venice of the North” ini merupakan kota yang banyak dilalui kanal-kanal (kali besar yang bisa dilalui perahu/kapal ukuran sedang), jembatan-jembatan diantaranya jembatan bermodel kuno …

Novel AIHJ hal.104-105
Artikel “Jalan-Jalan di Amsterdam,” sumber: javamilk
Amsterdam adalah kota yang sangat memerhatikan pengguna sepeda. Di mana-mana terdapat jalur khusus sepeda dan memang banyak orang memakai sepeda kemana-mana. Mobil dan motor pun akan mengalah jika berhadapan dengan sepeda. Walaupun demikian, patuhi rambu-rambu dan perhatikan adanya zona larangan sepeda.
 
Sepeda yang dipakai di Amstedam adalah sepeda “tanpa gigi”, dilengkapi dengan dua macam kunci, karena sepeda mudah hilang jika tidak dikunci. Sepeda di sini juga tidak dilengkapi rem tangan, untuk mengerem caranya adalah membalik arah mengayuh pedal. Awalnya mungkin belum terbiasa mengayuh sepeda model ini, tetapi setelah berbulan-bulan terbiasa bersepeda, Anggi sudah tak canggung lagi.
Amsterdam adalah kota yang sangat memperhatikan pengguna sepeda. Di mana-mana terdapat jalur khusus sepeda dan memang banyak orang memakai sepeda ke mana-mana. Mobil dan motor pun akan mengalah jika berhadapan dengan sepeda. Walaupun demikian patuhi rambu-rambu dan perhatikan adanya zona larangan sepeda.
 
Perlu dicatat bahwa rata-rata sepeda yang dipakai di Amsterdam adalah ‘tanpa gigi alias genjot aja, dilengkapi dengan 2 macam kunci (sepeda bakal hilang kalau tidak dikunci). Satu hal lagi adalah sepeda ini tidak ada rem tangan, untuk mengerem caranya adalah membalik arah genjotan kaki. Awalnya mungkin belum terbiasa mengayuh pedal sepeda model ini, tetapi lama-lama Anda akan menikmati keliling kota Amsterdam dengan sepeda ini.

Novel AIHJ hal.206
 
Artikel “Universitas Leiden: Pesona Lain Negeri Kincir Angin”, sumber: buahpena-hotnida.blogspot.com Blog Buah Pena Hotnida
 
Perpustakaan Universitas Leiden termasyur di seluruh dunia sebagian karena koleksi bahasa Indonesia yang termasuk dalam Special Collections. Para mahasiswa dan sarjana dari seluruh dunia telah tertarik oleh kekayaan luar biasa dari koleksi yang terdiri dari ribuan manuskrip, foto, gambar, dan karya cetak. Dengan sabar, dikumpulkan dalam waktu yang sangat lama. Hasil penelitian mereka yang telah dipublikasikan dengan apik di monograf.
 

Bagi para peneliti, Perpustakaan Leiden bagaikan surga yang dapat memuaskan hasrat keingintahuan mereka akan naskah lama. Tak ayal, perpustakaan ini menjadi sasaran para peneliti yang ingin menuntaskan disertasi atau tesis dengan mencari naskah atau informasi yang dibutuhkan. Dalam hal ini, mereka berpendapat tidak ada yang lebih baik dari Universitas Leiden.
 
Perpustakaan Universitas Leiden termasyur di seluruh dunia sebagian karena koleksi bahasa Indonesia yang termasuk dalam Special Collections. Para mahasiswa dan sarjana dari seluruh dunia telah tertarik oleh kekayaan luar biasa dari koleksi yang terdiri dari ribuan manuskrip, foto, gambar, dan karya cetak dengan sabar dikumpulkan selama waktu yang sangat lama. Hasil penelitian mereka yang telah dipublikasikan dengan apik di monograf.
 
Bagi para peneliti, Perpustakaan Leiden bagaikan surga yang dapat memuaskan hasrat keingintahuan mereka akan naskah lama. Tak ayal, perpustakan ini menjadi sasaran para peneliti yang ingin menuntaskan disertasi atau tesis mereka dengan mencari naskah atau informasi yang dibutuhkan. Dalam hal ini, mereka berpendapat tidak ada yang lebih baik dari Universitas Leiden.

Novel AIHJ hal.219-220
Artikel “Keukenhof: Secuil Taman Surga di Daratan Eropa”, sumber: Blog Rohman Albantani
Tiga puluh menit kemudian, bus sudah memasuki Kota Lisse. Dari dalam bus sudah terlihat hamparan bunga warna-warni di taman yang luas. Anggi tak bisa berhenti berdecak mengagumi keindahannya. Bunga berwarna ungu, hijau, kuning, merah, pink, krem, dan warna-warna lain yang belum pernah ia lihat sebelumnya membentuk gugusan panjang berkelok-kelok bagaikan hamparan permadani raksasa yang indah.

Kurang lebih dua puluh menit kemudian, bus yang mereka tumpangi sampai di pintu parkir taman. Di sana berjejer ratusan mobil bus berbagai jenis dengan lambang bendera berbagai negara di badan mobil, menandakan Keukonhof ini dapat ditempuh lewat jalur darat oleh negara-negara uni eropa lain seperti Jerman, Swiss, Italia, Perancis, Belgia, dan Luxemburg. Jarak dari pemberhentian bus ke pintu masuk Keukenhof panjangnya kurang dari seratus meter, tetapi butuh waktu cukup lama untuk sampai di pintu masuk karena mereka bertiga harus melalui antrian yang sangat panjang.

(LANJUTKAN KE POSTINGAN DI BAWAH)
Ketika bus melewati kota Lisse, hamparan bunga warna warni di taman yang luas sudah menggoda mata ini untuk tidak mungkin tidak menatapnya. Bunga berwarna ungu, hijau, kuning, merah, pink, krem, dan warna-warna lain yang belum pernah saya lihat sebelumnya membentuk gugusan panjang nan indah seperti hamparan permadani raksasa.
 
 
Kurang lebih 20 menit kemudian, bus yang mengantar kami sampai di pintu parkir taman. Di sana, ratusan mobil bus dengan karoseri yang beraneka bentuk, ukuran, bendera dan corak berjejer menandakan Keukonhof ini dapat ditempuh lewat jalur darat oleh negara-negara uni eropa lain seperti Jerman, Swiss, italia, Perancis, Belgia, dan Luxemburg. Jarak dari pemberhentian bus ke pintu masuk Keukenhof tidak jauh kurang dari 100 meter dan disini antriannya lebih panjang dari pada ketika mengantri tiket di stasiun.


(LANJUTKAN KE POSTINGAN DI BAWAH)

37 komentar:

  1. Biar lebih kuat, mungkin bisa dikasih foto atau scan halaman buku novel terkait. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gemblin Jules14 Juni 2013 01.24

      Usul yang baik, akan dipertimbangkan

      Hapus
  2. Jadi gimana ini, ditarik dari peredaran gak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gemblin Jules14 Juni 2013 01.29

      Seharusnya ditarik sebagai pertanggungjawaban kepada konsumen. Konsumen tentu rugi membeli novel yang dipenuhi data copas. Tapi setahu saya, sampai saat ini belum ada klarifikasi dan permintaan maaf resmi dari penerbit kepada pembaca/konsumen

      Hapus
  3. Lebih tepat kalau dibliang kurang kreatif aja, masak bahan referensi di copy paste, mestinya referensi dibuat jadi kalimat dan frasa baru yg tidak berkesan tempelan belaka. Malas atau ga kreatif ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gemblin Jules14 Juni 2013 01.36

      Banyak alasan membuat penulis melakukan copas dan plagiat. Bisa saja karena greedy, ingin menulis dengan cara gampang dan cepat. Mungkin juga karena malas mengolah data, lebih mudah copy dan tempel. Mengolah data perlu waktu dan kemampuan analisis, tidak semua penulis mampu melakukannya. Coba perhatikan novel-novel pop semacam ini, banyak yang bersetting luar negeri tapi deskripsi gamang dan hanya samar-samar

      Hapus
  4. Semestinya pengarang bikin karya tulis aja, bukan novel. Saya belum baca novelnya sih, tapi gak kebayang gaya tulisan artikel dibikin novel.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gemblin Jules14 Juni 2013 01.39

      Betul. Data copas dalam novel ini mudah terdeteksi karena tidak menyatu dengan kalimat dan cerita keseluruhan. Kelihatan hanya potongan-potongan data yang ditempel

      Hapus
  5. Apa jangan2 semua novel nya hasil copas artikel?
    http://arumi-stories.blogspot.com/2013/05/launching-novel-amsterdam-ik-hou-van-je.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gemblin Jules14 Juni 2013 01.41

      Ayo sama-sama mengecek novel-novelnya yang lain, terutama yang bersetting luar negeri

      Hapus
  6. mungkin saudara gemblin jules bsa membandingkan novel 2060 karya yuli pritania dg novel in death series karya JD.Robb, mungkin akan menemukan hal yg menarik seperti diatar atau mungkin lebih parah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gemblin Jules14 Juni 2013 01.44

      Saya belum baca novelnya. Bagaimana kalau anonim yang kirim data dan pembuktian agar di posting di blog ini. Mari bareng berantas plagiasi yang semakin merajalela

      Hapus
    2. Benar seperti yang dikatakan anonim di atas, novel 2060 karya YULI PRITANIA terbitan Grasindo, juga merupakan PLAGIAT super parah.
      Bandingkan dengan novel In Death series karya JD.ROBB.
      Yuli Pritania hanya merubah setting novel saja menjadi setting KOREA. Dan lucunya lagi, tokoh yang ia pakai adalah nama populer dari boyband Korea : Super Junior.

      Hapus
    3. Karya YULI PRITANIA ini, saya tidak tahu apakah bisa disebut Plagiat atau hanya terinspirasi. Saya punya novel 2060 ini, punya pula novel JD. Robb yang berjudul Telanjang dalam kematian aka Naked in Death (series pertama).
      Menurut saya memang ada beberapa hal yang sama dengan novel JD Robb itu, contohnya saja; auto-chef pada novel JD. Robb, diganti dengan auto-machine pada novel 2060. Karakter pria di novel JD. Robb dan 2060 memiliki latar belakang yang sangat mirip, penggambaran karakternya pun begitu.
      Penulis mengaku hanya terinspirasi, tapi apakah inspirasi harus meniru sama persis?
      Mungkin ada seseorang yang bisa menemukan letak kemiripan tersebut.

      Hapus
    4. Saya Punya Novel 2060 dan saya penggemar berat JD Robb series 1 - 16 saya mengoleksinya...memang untuk masalah Authocheff dan beberapa karakter Kyuhyun dan Roarke 85% sama...Tapi Tolong Pahami dulu apa itu makna Plagiat,, si Penulis menjelaskan dia terinspirasi JD Robb/Nora Robert..dan si penulis mengembangkannya dengan penjabaran sendiri...saya sanksi seperti-nya Anonim di atas saya mempunyai masalah pribadi dengan penulisnya ya...? terbaca loh cara penyampaiannya :)

      Hapus
    5. boleh ikut bergabung sebentar?
      saya pembaca berbagai macam novel. entah itu yg korea-an ataupun bukan. saya juga sudah membaca in death series karya JD Robb sampai seri ke 23 survivor in death. kebetulan beberapa waktu lalu ke gramedia dan menemukan novel fanfiction 2060, sya langsung tertarik krna menyinggung soal kecanggihan teknologi masa depan dan membuat saya teringat setting waktu yg hampir berdekatan dengan karya JD Robb.
      awal baca, agak curiga kalau saja novel ini isinya malah plagiat karya JD Robb. tapi smakin dalam membaca, saya justru menemukan banyak perbedaan karakter tokoh utamanya Kyuhyun-Roarke dan Eve-Hyena. latar belakang kehidupan mereka juga beda. untuk masalah autochef namanya tetap sama, tidak diganti menjadi automachine sepertinya.intinya, penulis ini tidak asal memplagiat. beberapa bagian mungkin sama karena terinspirasi, tapi lainnya dia kembangkan sendiri kok karna jlan ceritanya pun jauh berbeda dgn indeath seriesnya jd robb

      Hapus
    6. saya sudah membaca Novel 2060, teman saya yang merekomendasikan, dan kebetulan juga saya penikmat karya Nora Robert aka JD Robb. mungkin letak kemiripannya memang berada pada teknologi yang berada pada jaman itu dan kekayaan yang dimiliki Kyuhyun-Roarke. tetapi bila dilihat dari kisah cinta, awal pertemuan Kyuhyun-Hyena, pekerjaan Hyena, karakter Kyuhyun, dan alasan Kyuhyun-Hyena menikah sangat berbeda dengan Naked In Death. bisakah disebut plagiat?
      plagiat itu menjiplak/menyalin karya orang lain (mungkin mengedit beberapa bagian untuk penyesuaian), sedangkan terinspirasi mendapat bayangan dari sesuatu dan mengembangkannya dengan pemikirannya sendiri. menurut saya penulis 2060 lebih terinspirasi oleh In Death Series, bukan memplagiatnya. jika tidak salah di Novel 2060 penulis menuliskan bahwa dia memang terinspirasi oleh JD Robb. terinspirasi belum tentu meniru.

      Hapus
    7. saya sudah membaca novel 2060, dan saya juga perbah membaca novel JD Robb. saya tidak melihat adanya plagiarisme di novel 2060. Memang ada beberapa hal yang sama seperti autochef & android, dan penulisnya mengatakan bahwa itu memang terinspirasi dari novel jd robb, namun jalan cerita nya sangat jauh berbeda. Saya rasa bagi yang sudah membaca novel 2060 dan novel JD robb bisa melihat dan menilai sendiri bahwa novel 2060 bukan plagiat dari novel in death seriesnya JD Robb.

      Hapus
    8. saya sudah pernah membaca dua-duanya, dan saya akui banyak kesamaan dari segi karakter dan lain sebagainya. Pada dasarnya tidak ada pakem yang jelas yang membedakan antara terinspirasi dan plagiasi. Mungkin saja memang dia sangat menyukai cerita in death sehingga ingin membuat indeath dengan nama tokoh yang berbeda, tapi menurut saya yang namanya terinspirasi kan tidak harus membuat karakter yang sama persis, kemudian alat-alat yang sama. Yang benar-benar berbeda hanya nama tokoh dan kota setting cerita.

      Tapi sekali lagi persepsi plagiat dan inspirasi itu bergantung pada masing-masing orang, mungkin alibi si penulis dan penggemarnya adalah terinspirasi, namun bagi pembaca yang netral seperti saya yang sama sekali tidak mengenal si penulis secara pribadi, saya menganggap ini meniru. Untuk kebenaran hanya tuhan dan si penulis yang tahu.

      Saya mendoakan semoga si penulis jika kedepannya akan menerbitkan buku lagi, akan menerbitkan suatu karya yang lebih orisinil, jika memang tidak mampu untuk membuat sesuatu yang orisinil, janganlah terlalu banyak mengambil karakter, ide, cerita dan orang lain seperti yang telah di lakukan.

      Hapus
  7. apakah termasuk plagiat kalau mengambil ilustrasi ttg suatu kota? Bukankah ilustrasi kota itu secara garis besar tidak akan berubah? semua orang bisa melihat hal yang sama. Masalahnya sekarang, apakah dia mencomot ide cerita yg sama dan hanya menggantikan nama orang saja?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang secara garis besar tidak berubah tapi kalau memang tidak mencomot, pasti mempunyai gaya bahasa atau penyampaian yang berbeda

      alangkah lebih baiknya di cantumkan Footnote atau Novel ini terinspirasi dari ..... bla bla bla
      Seperti Moga Bunda Disayang Tuhan karya Tere Liye, di halaman terakhir disampaikan kalau novel itu diilhami dari suatu kisah
      Seno gumira saja mencantumkan sumbernya :)

      Semoga Karya Anak bangsa semakin lebih baik.

      Hapus
  8. sebetulnya filosofi pengakuan hak cipta itu tak saja sekedar perihal ekonomi, tapi juga pengakuan akan kreatifitas orang lain.

    Arumi harusnya cukup bijak mencantumkan sumbernya, baik di footnote atau bagian akhir novelnya.

    penerbit dan editornya turut bertanggung jawab nih... malah saya curiga bukan arumi sepenuhnya yang nulis, bisa jadi orang lain (ghost writer) ;)

    ttg ilustrasi sebuah kota yang fulcanelli tanya diatas, kalau pendapat saya sih, setiap orang punya cita rasa berbeda dalam mengilustrasikan kota, tak mungkin bisa sama...:)

    nice artikel ...

    boleh saya share gak di fb atau di twitter?

    BalasHapus
  9. baru tau ada kasus ginian. gue nggak tau novelnya, dan kayaknya emang gak tertarik sama novel genre beginian. tapi apapun itu, plagiat ya tetep plagiat. dan itu nggak bisa ditolerir gitu aja. apalagi ini udah jadi dlm bentuk novel yg udah go publish. hufet banget orang macam ginian. shortcutnya ada2 aja..

    BalasHapus
  10. udah baca novelnya kah ?
    bukannya belum terbit yaa

    BalasHapus
  11. Setahu saya banyak juga Novel yang bersetting Luar Negeri, meskipun orangnya tidak ke Luar Negeri (setting yang digunakan dalam novelnya)
    Nah.. kalau memang tidak Plagiat pasti
    ilustrasinya berbada, dengan gaya penulisan yang berbeda tentunya.

    Semoga akan lebih baik.

    BalasHapus
  12. wah kok bisa tahu sedetail itu ya, sampai beberapa halaman dan artikel, jangan-jangan isu plagiat hanya mencari sensasi untuk mendongkrak penjualan novel itu sendiri... trik penerbit nih

    BalasHapus
  13. Wah ko jdi banyk plagiat begini..??

    BalasHapus
  14. mas gemblin kok gak ada kasus yang di munculin buktinya lagi sih?, kan udah ada banyak laporan itu, ditunggu ya bukti karya-karya lain yang plagiat, baik secara fisik nyata maupun plagiat ide, terima kasih

    BalasHapus
  15. Gemblin Jules2 Juli 2013 08.13

    Debat soal kemiripan novel 2060 Yuli Pritania vs In Death Series JD Robb sudah saya angkat dalam judul tersendiri.

    BalasHapus
  16. Salam Om Gemblin,

    Saya Restu dari Detik, saya mencermati seputar isu kasus plagiasi ini, bahkan sampai saya membeli novelnya. Saya ingin membuat reportase berimbang soal kasus ini terutama secara kronologis untuk rubrik Pustaka harian Detik edisi Sabtu depan kalau bisa. Kira-kira kalau saya ingin ngobrol or wawancara seputar plagiasi ini gimana ya?
    Saya ingin menurunkan tulisan seputar ini, tapi kan harus cover both side dan berimbang. jadi selain dari pihak novelis, penerbit, juga sangat diharapkan dari owner blog ini...

    Trims. Ditunggu responnya dengan sangat

    Restu A. Putra-Detik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam Mas Restu Putra,
      Saya hanya bisa menyarankan agar Mas Restu juga membuat perbandingan antara novel 2060 Yuli Pritania vs In Death series JD Robb. Lebih banyak yang melakukan perbandingan tentu akan semakin obyektif, terlebih jurnalis seperti Anda yang saya yakin punya kemampuan analisa yang baik. Silakan jika ingin mengutip isi blog ini untuk artikel anda.
      Sukses untuk artikel Anda.

      Hapus
    2. Oh, okey om Gemblin, itu bisa ditindaklanjuti... Tapi saya kalau pengen tahu gimana cerita mula penelusurannya boleh ga, mungkin bisa DM saya di twitter @restu_a_putra, supaya bisa lebih clear kronologisnya Om... :)

      Trims, ditunggu Om... :)

      Restu A. Putra-Detik

      Hapus
  17. Saudara Gemblin Jules sudah menutup kolom komentar di postingan 2060 vs In Death Series, sayang sekali. Padahal saya membawa bukti baru tentang mengendapnya kasus tersebut.

    Ini adalah komentar dari seorang yuli Pritania menanggapi apa yang tengah terjadi di postingan tersebut (source: http://m.facebook.com/100000798867135/timeline/story?ut=2&hash=-3303324616961582536&wstart=0&wend=1375340399&ustart&refid=17#menu_anchor) :

    Yuli Pritania
    Ada apaan, sih? Aku ketinggalan sesuatu, ya? *nguap abis tidur siang*
    Suka · Senin pukul 16:46

    Alfi Adistya
    ada anak yg nyuruh eonn minta mf
    Suka · Senin pukul 16:53

    Yuli Pritania
    Alfi Adistya: Siapa? Trus?
    Udhlah, sini d aku blg, aku udh ngelepas semua hal2 jelek di sekeliling aku. Liat kan aku udh g bikin status apa2 lg? Jd kalian jg g usah tanggepin lg caci maki org. Just let them. Bersikap aja seolah g tau apa2. Ntar jg mereka capek.

    Nyuruh aku minta maaf? Emg salah aku apa? Dan mereka siapa? Just a bunch of haters. I've already talked with my editor and she told me what to do. So...

    Bsk udh bulan puasa, nih. Hindarkan smeua penyakit hati.
    Suka · Senin pukul 16:57



    "I've already talked with my editor and she told me what to do. So..." So diam saja nanti juga mereka capek sendiri, begitu? Menyedihkan sekali dunia literasi Indonesia...

    Trims

    BalasHapus
  18. bisa jadi itu manusia biasa. Tempat salah dan LUPA! Ya plagiat, bisa di bilang mencari inspirasi (terkadang terlalu gampang copy paste) biar tulisan lebih berkesan hidup dan sesuai deathLINE!

    Coba deh di cek skripsi kamu dan temen-temen, plagiat juga?

    Mohon Maaf Lahir batin ya

    BalasHapus
  19. mas coba lihat novel Aeromatical karya Zhaenal Fanani vs Angel & Demonnya Dan Brown.
    Menurutku 'tingkat plagiarisme'nya sekitar 75% - 90%...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya, Aeromatical dan Angel & Demon memang sangat mirip.
      Setting tempatnya juga sama, yaitu di Vatikan. Garis besar alur ceritanya juga serupa.

      Hapus
  20. Saya memang belum pernah baca buku JD Robb. tapi, apa keseluruhan buku sama? 2060 baru terbit satu buku (dari dua buku). mungkin pandangan akan berbeda jika orang sudah membaca keseluruhan cerita dari 2060. tetapi ada sedikit yang membuat saya keberatan, untuk kesamaan karakter seperti Eve dan Hyena sama-sama penikmat kopi.. Hyena bukan saja penikmat kopi di dalam 2060. itu merupakan karakter asli. dan tolong, baca dulu sampai bukunya habis. apa kisah cinta Kyuhyun dan Hye-na sama persis dengan cast di novel JD Robb?

    thanks.

    BalasHapus